Untuk Tenaga Kesehatan Ringkasan & alat bantu praktik untuk SpOG, residen, dan dokter umum. Alat bantu β€” bukan pengganti penilaian klinis atau pedoman resmi terbaru.

Referensi Β· Obstetri

Skrining USG Trimester 1, 2, & 3

Ringkasan tujuan dan komponen utama USG obstetri tiap trimester, dengan perbandingan waktu pemeriksaan menurut protokol POGI/Kemenkes, ISUOG, dan ACOG sebagai pilihan. Komponen pemeriksaan mengikuti standar anatomi ISUOG dan disesuaikan indikasi klinis.

Protokol & waktu (pilihan)

ProtokolTrimester 1Trimester 2Trimester 3
POGI / Kemenkes
nasional
USG penanggalan & viabilitas (kunjungan dokter ke-1) Survei anomali β€” dianjurkan bila tersedia USG pertumbuhan & letak (kunjungan dokter). Bagian 6Γ— ANC; minimal USG di T1 & T3.
ISUOG 11–13⁺⁢ mgg: dating (CRL), NT, anatomi dini 18–22 mgg: survei anomali terperinci Scan pertumbuhan & kesejahteraan (terprogram / atas indikasi)
ACOG
AIUM/SMFM
Dating/viabilitas β€” paling akurat; bila terindikasi 18–22 mgg: anatomi (pemeriksaan standar utama) Tidak rutin pada risiko rendah; hanya atas indikasi

Ketiganya sama-sama menekankan penanggalan trimester 1 dan survei anomali 18–22 minggu. Perbedaan utama pada USG trimester 3: terprogram/rutin (POGI, ISUOG) vs hanya atas indikasi pada risiko rendah (ACOG).

Trimester 1 β€” penanggalan & NT

Trimester 2 β€” anomali (anatomi)

Trimester 3 β€” pertumbuhan & kesejahteraan

Catatan

Ini adalah kerangka skrining standar; pemeriksaan tambahan (mis. ekokardiografi janin, Doppler serial, serviks) dilakukan atas indikasi. Kualitas bergantung pada usia kehamilan, posisi janin, dan faktor ibu.

Sumber: ISUOG Practice Guidelines (first-trimester; mid-trimester anatomy; third-trimester scan); ACOG/AIUM–SMFM β€” standard obstetric ultrasound; Kemenkes RI β€” kebijakan ANC 6Γ— (USG oleh dokter pada T1 & T3). Sesuaikan dengan pedoman POGI/lokal terkini.

← Kembali ke Untuk Dokter

Sumber dan versi pedoman dicantumkan pada tiap halaman. Selalu verifikasi dengan pedoman resmi yang berlaku (mis. WHO, Kemenkes/POGI/HOGI, FIGO). Hasil kalkulator hanya alat bantu dan harus ditafsirkan dalam konteks klinis pasien.