Referensi Β· Ginekologi Onkologi
Skrining Kanker Serviks
Ringkasan praktis metode skrining, usia & interval menurut WHO 2021 dan program nasional Indonesia, serta rambu rujukan. Disusun sebagai rujukan cepat β sesuaikan dengan pedoman resmi terbaru dan kondisi setempat.
Metode yang tersedia
| Metode | Prinsip | Catatan |
|---|---|---|
| Tes HPV DNA | Deteksi DNA HPV risiko tinggi (mis. 16/18 dan lainnya). | Sensitivitas tertinggi; kini metode pilihan utama (WHO). Bisa dengan self-sampling. Perlu triase bila positif. |
| Sitologi (Pap smear) | Pemeriksaan sel serviks (konvensional / liquid-based). | Spesifik; sensitivitas lebih rendah dari HPV DNA. Perlu laboratorium & SDM sitologi. |
| IVA | Inspeksi Visual dengan Asam asetat β melihat lesi acetowhite. | Murah, hasil langsung, mendukung pendekatan single-visit / see-and-treat. Bergantung keterampilan pemeriksa. |
Rekomendasi WHO (2021)
- Metode utama: tes HPV DNA sebagai skrining primer (bukan IVA/sitologi bila tersedia).
- Populasi umum: mulai usia 30 tahun, ulangi tiap 5β10 tahun hingga usia 50; dapat dihentikan setelah dua hasil negatif berturut sesuai interval.
- Perempuan dengan HIV: mulai usia 25 tahun, ulangi tiap 3β5 tahun.
- Bila HPV positif β triase (mis. sitologi, genotip 16/18, atau IVA) sebelum tindakan.
Program nasional Indonesia
- RAN Eliminasi Kanker Leher Rahim 2023β2030 (Kemenkes): target vaksinasi HPV pada anak perempuan (Β± usia 15 th), skrining HPV DNA pada perempuan 30β69 tahun, dan cakupan pengobatan lesi prakanker.
- Praktik saat ini di banyak FKTP masih memakai IVA dan Pap smear; IVA umumnya untuk perempuan 30β50 tahun dengan pendekatan single-visit / see-and-treat, tiap 3β5 tahun.
- Transisi menuju HPV DNA (termasuk self-sampling) sedang diperluas secara nasional.
Catatan versi
Kebijakan skrining Indonesia sedang beralih dari IVA/Pap ke HPV DNA. Untuk keputusan program, gunakan pedoman Kemenkes/POGI/HOGI terkini; ringkasan ini dapat tertinggal dari edaran terbaru.
Menyikapi hasil (garis besar)
- IVA positif: pertimbangkan krioterapi/termal ablasi (see-and-treat) atau rujuk sesuai kelayakan lesi.
- HPV positif: triase (sitologi / genotip 16-18); tindak lanjut sesuai hasil.
- Sitologi abnormal (ASC-US HPV+/LSIL/HSIL/AGC): arahkan ke kolposkopi Β± biopsi sesuai pedoman.
Kapan merujuk (ginekologi / ginekologi-onkologi)
- Serviks tampak/teraba mencurigakan kanker (massa, ulkus, rapuh, mudah berdarah) β rujuk, jangan hanya di-skrining.
- Perdarahan pascasenggama, perdarahan pascamenopause, atau keputihan patologis yang mencurigakan.
- Hasil HSIL, kolposkopi/biopsi abnormal, atau curiga lesi invasif.
- Kehamilan dengan sitologi/kolposkopi abnormal (penanganan khusus).
Sumber: WHO (2021) β new recommendations for cervical screening & treatment; Kemenkes RI β Rencana Aksi Nasional Eliminasi Kanker Leher Rahim 2023β2030.
Sumber dan versi pedoman dicantumkan pada tiap halaman. Selalu verifikasi dengan pedoman resmi yang berlaku (mis. WHO, Kemenkes/POGI/HOGI, FIGO). Hasil kalkulator hanya alat bantu dan harus ditafsirkan dalam konteks klinis pasien.