Pengobatan & Prosedur
Kolitis & Proktitis Radiasi
Peradangan usus besar/rektum akibat radioterapi panggul: mengenali gejala (diare, perdarahan dubur), cara diagnosis, serta tatalaksana keluhan akut maupun kronik.
Radioterapi pada area panggul β misalnya untuk kanker serviks atau rahim β dapat mengiritasi usus besar dan rektum yang letaknya berdekatan. Kondisi ini disebut kolitis atau proktitis radiasi. Sebagian besar bersifat ringan dan dapat dikelola, tetapi penting dikenali agar tidak salah ditangani.
Apa itu kolitis/proktitis radiasi?
Kolitis / Proktitis RadiasiPeradangan usus besar (kolitis) atau rektum (proktitis) akibat radioterapi panggul. Dapat bersifat akut (selama/segera setelah terapi) atau kronik (muncul bulan hingga tahun kemudian).Lihat di kamus β adalah peradangan usus besar (kolitis) atau rektum (proktitis) akibat Radioterapi (Radiasi)Pengobatan kanker menggunakan sinar berenergi tinggi untuk merusak sel kanker.Lihat di kamus β panggul. Ada dua bentuk:
- Akut β muncul selama atau segera setelah terapi; umumnya sementara dan membaik dalam beberapa minggu.
- Kronik β muncul berbulan-bulan hingga bertahun-tahun kemudian, akibat perubahan pada pembuluh darah kecil dan jaringan di area yang disinari.
Gejala yang perlu diwaspadai
- Diare dan kram perut.
- Sering ingin buang air besar atau rasa tidak tuntas (tenesmus), kadang disertai urgensi.
- Keluar lendir dan perdarahan dari dubur β terutama pada proktitis kronik.
- Nyeri saat buang air besar.
- Pada kasus berat (lebih jarang): penyempitan usus, sumbatan, atau saluran abnormal (fistula).
Bagaimana didiagnosis?
- Riwayat radioterapi panggul ditambah keluhannya sudah sangat mengarahkan.
- Dokter akan menyingkirkan penyebab lain lebih dulu, seperti infeksi atau kekambuhan kanker.
- Kolonoskopi / SigmoidoskopiPemeriksaan melihat bagian dalam usus besar atau rektum menggunakan selang berkamera, kadang sekaligus mengambil contoh jaringan (biopsi).Lihat di kamus β untuk melihat langsung kondisi usus/rektum, dan bila perlu mengambil BiopsiPengambilan sepotong kecil jaringan untuk diperiksa di bawah mikroskop. Ini adalah cara memastikan diagnosis kanker.Lihat di kamus β (dilakukan hati-hati karena jaringan rapuh).
- Kadang diperlukan pencitraan (CT atau MRI) untuk menilai penyempitan atau fistula.
Tatalaksana
Penanganan disesuaikan dengan berat-ringan dan apakah keluhannya akut atau kronik.
Saat akut (selama/segera setelah terapi):
- Penyesuaian makanan: sementara pilih makanan rendah serat, cukupi cairan untuk mencegah DehidrasiKekurangan cairan tubuh. Tandanya antara lain rasa haus, jarang buang air kecil, urin pekat, lemas, dan pusing. Dapat terjadi akibat muntah atau diare selama pengobatan.Lihat di kamus β, dan kurangi makanan pedas, berlemak, berkafein, serta susu berlebih.
- Obat untuk meredakan diare dan kram sesuai anjuran dokter.
- Rawat kulit di sekitar dubur agar tidak lecet.
- Tim radioterapi dapat menyesuaikan jadwal bila keluhan berat; gejala umumnya membaik beberapa minggu setelah terapi selesai.
Saat kronik:
- Dikelola jangka panjang bersama dokter.
- Untuk perdarahan dari dubur: tersedia obat (misalnya enema/obat topikal) dan, bila perlu, tindakan melalui teropong untuk menghentikan titik perdarahan.
- Pada kasus sulit, dokter dapat mempertimbangkan terapi khusus seperti oksigen hiperbarik.
- Atasi kekurangan darah (AnemiaKekurangan sel darah merah atau hemoglobin yang dapat menimbulkan lemas, pucat, dan mudah lelah.Lihat di kamus β) akibat perdarahan, serta jaga kecukupan gizi.
- Tindakan bedah hanya dilakukan pada kasus berat (mis. penyempitan atau fistula) bila benar-benar diperlukan.
Hidup dengan kolitis radiasi
Mencatat pola makan dan gejala membantu menemukan makanan pemicu. Jaga hidrasi, jalani kontrol rutin, dan jangan ragu melaporkan perdarahan atau perubahan keluhan kepada tim medis.